(Siapa Aku) Losing My Dignity! I Hate Myself! (Leave me alone, Strangers!)

Can i say that i am an innocent criminal? O_O

I. Aku Penjahat Lugu, Kasihan ya;

Pagi ini, aku terdengar dan terasa, sesuatu.............

"Wadah apa ini, kotor dan banyak sampah. Pemiliknya sedang sakit mental kah? Kenapa masih buang toksin dan limbah sembarangan di rumah sendiri? Sungguh menyampah, muak di buatnya!"

Hmmmm.. kau bicara padaku? Well, aku pemilik dan pengurus tempat ini. Aku juga yang mengisinya dengan perabotan daur ulang yang tidak orisinal, bajakan, murah meriah, dan second hand ilegal. Kadang selundupan. Iya, sesekali black market juga.

Hasilnya, semua yang ada di sini pada kacau, balau, galau, belau, pedau, dan sesat au au uh. (Macam itu maksudmu?)

Hati-hati, perkataan bisa menjadi doa. Jadi ku ingatkan lagi, ini bukan kumpulan kata atau kalimah untuk di panjatkan kepada-Nya, tapi, untuk ini:
Sudah ku baca celotehmu,
Telah ku dalami maksud tersiratmu,
Sudah ku isyaratkan pengertian untukmu,
Telah ku pahami bagian mana yang mengganggumu,
Baiklah, ku turuti lagi keinginanmu,
Namun jangan lupa kirim batas kadaluarsamu,
Agar dapat ku siapkan perihal maumu.

Pertanyaanku:
Bilakah masa yang tepat bagiku untuk menghentikanmu?
Ku tunggu jawabanmu.
Itu kemarin, kemarinnya, dan kemarinnya lagi! Sekarang, baiknya aku pergi setelah mengunci semua kepahitan itu dalam kotak daftar hitamku! Blacklist 'em

Kejam kah?
Simple rules:

Leave me alone if you hate me! Yes i'm idiot, so what?!

Knowing that i'll never be good enough for you, makes me love myself for more, all my loving and my best works belong to my lovely people, only.
You don't deserve anything from me. Goodbye haters, trolls, bullies!!!!

Regards: Me!
Simak: Eyes Menatap Kosong.

Yah.. Aku capek menghadapi (gaya otoriter) yang begitu. Apalagi kalau sampai mengancam atau bahkan persekusi pulak. Siapa elu? Ugh! Peduli berbeda dengan mengatur, mengajar pun pasti berbeda dengan menghajar.

Aku rindu sosok pendengar, yang kemudian bersedia mengontrol aku dengan jiwa, bukan cuma dengan ego.

Ya.. Jarang ada yang support aku sepenuhnya. Ide dan kesukaan/cita-cita terpendamku masih banyak, akan aku eksekusi bersama orang spesial nanti.

Jangan kira aku tak butuh bantuan, atau domplengan, atau tim baru, atau pendamping hidup, hanya karena aku masih betah sendiri. Tentu aku butuh, namun cuma yang klik yang bakal ngerti aku dan bisa mengarahkanku. Itu yang agak sulit untuk ditemukan, heheh.

Mungkin aku akan -dan harus- mencoba menjalani dengan someone yang paling aku sayang, nanti. Amin.

Untuk saat ini, ku jalani yang termampu, seorang saja seperti biasanya. (Seriously, all i really need is a true love-mate and true team-mate-s.)

Ow ow ow, no no no, jangan tanggap serius, aku ini pembohong besar loh. Tidak percaya? Ini buktinya:


II. Luka-Murka-Duka;

Monolog, ngomong sendiri, hanya itu yang aku mampu. Sebab, aku cuma seorang pengangguran yang tak punya profesi, tak punya jabatan, tak punya gelar akademik, tak punya harta, tak punya kekasih, tak punya sahabat, tak punya tetangga. Plus, tak punya prestasi dan pencapaian yang boleh dibanggakan, kalaupun ada, itu semua hasil curian dan nyontek alias plagiat.

Uuuffhh. Mungkin mereka benar bahwa hidupku penuh kepalsuan, aku selalu berpura-pura, aku pembohong, aku penipu, aku pembual, aku banyak omong, aku bermulut besar, aku suka bergunjing, aku suka kepo pribadi orang lain, aku penyakitan, pergaulanku buruk karena aku tak punya kawan baik.

Aku jelek. Penampilan cantik dan menarik di semua potretku itu hasil editan photoshop dan mobile-apps.

Wajah asliku jauh berbeda dengan foto, sangat jauh, tidak kelihatan aslinya sama sekali. Kulitku kusam jerawatan tapi difoto mirip bintang bollywood atau kpop. Aku sangat fake, aku hanya menutupi kebobrokan diriku dengan merekayasa pose dan penampakan luaranku agar keren di muka publik.

Tubuhku kurus ceking tapi sok seksi. Gaya berbusanaku ketinggalan zaman tapi berlagak trendi dengan sok memadu-padankan apa yang ada, saking aku pelit atau aku bahkan tak mampu belanja baju baru yang mahalnya minta ampun.

Tapi anehnya, aku sok kaya, padahal miskin. Rumah jelek, Mobil jelek, Motor jelek, Laptop jelek, Handphone jelek, itu pun punya orangtua, bukan milik aku sendiri. Sedih nian nasibku. Sudah setua ini masih nyusahin dan menempel sama keluarga, seperti benalu. Aku benci aku.

Dan lagi-lagi aku meng-edit gambar-gambar ilustrasiku agar terlihat glamor dan kinclong, padahal file ori-nya sangat buruk. Apapun alasannya, itu sama saja dengan phony/palsu, aku tidak percaya diri sama keaslian karya sehingga harus disunting segala.

Foto waktu aku kecil pun editan semua, ada jejak adobe photoshop, itu artinya wajahku sudah aku ganti, itu bukan wajah asliku. Jika wajah waktu aku kecil masih sama seperti wajah aku dewasa, itu cuma kebetulan, atau ya itu, cuma editan. Sebab wajahku sekarang ini mirip seorang nenek, tak sesuai foto dan umurku.

Lagipula, banyak orang bilang, meskipun editing itu cuma bertujuan untuk sedikit mempercantik atau memperbaiki error atau cuma beri watermark, tetap tak boleh pakai software apapun, harus asli 100% langsung upload, agar tidak palsu. Tujuan artistik itu omong kosong, makanya jangan edit, apalagi beri filter, haram ituh.

Aku sok adil, aku sok independen, aku sok bijaksana, aku sok humanis, aku sok jadi diri sendiri, aku sok anti-mainstream, aku sok melawan arus agar dikagumi sebagai orang unik, padahal faktanya aku cuma pencitraan. Nyatanya aku lemah dan minderan. Tambah lagi, aku tak paham standar confidence yang baik dan benar itu seperti apa.

Iya, aku tak pandai mengontrol emosi, makanya aku sering curhat sesukanya dengan tingkat kepedasan yang biadab. Itu bertolak belakang dengan pencitraan sok komprehensif yang aku bangun di sisi aku yang lainnya. Pantas saja mereka bilang aku gila dan berkepribadian ganda. Aku mengerikan.

Related. I Love it. (Hate them)

Amukan sombongku:
"woooi para bangsat, berhenti lah menggubris aku yang sombong dan pendusta serta penista ini. dongok betol, udah tau aku sombong, ngapain lu masih pelototi aku. huuuh!"

Yea.... Mereka lah yang terbaik di negeri ini, mereka tidak sombong lho, soalnya mereka berprestasi, di sana berisi orang hebat semua.

Sudah pasti mereka tak sudi melihat dan mengapresiasi orang sombong serupa iblis seperti aku. Di suruh ambil sesi konseling biar cepat sembuh aku tak mau, karena aku tak percaya sama mereka, terlalu awam, tak paham.

Oh Tuhan, wajar saja aku tak bisa maju dalam berkarya (bukan sekadar berkarir) di negara ini, rupanya karena aku sombong, aku tidak rendah hati dan bijak seperti mereka. Aku sadar meskipun aku tak pernah sadar, sifat gila dan sombongku selalu kumat.

Oh, mereka calon penerus bangsa yang bakal membanggakan negara. Hanya mereka yang bisa begitu, hanya di sana itu. Yang di luar dari itu, jangan harap di akui atau di rangkul. Apalagi kalau satu paham pol-itik, baru lah makin di sayang-sayang.

(Aku masih ingat "detail" dan orang-orangnya.)

-- Sebetulnya, energi angkuh mereka lebih kuat dari tempat lainnya, tapi karena mereka berlabel tinggi, warga hebat, jadi ya aku lah yang salah menilai, mereka yang benar dan selalu benar. Beruntung yah.

Jadi, jangan kritik, jangan ganggu, jangan memberi masukan ke mereka, nanti kita di anggap iri dan sombong lho.

Eh, aku bohong kok. Serius, bohong inih. --

Hhhh, padahal dulu aku tak kenal tempat itu, baru ngeh pada 2016. Haduh, menyesal. Sumpah, menyesal. Gobloknya aku, kenapa sempat kagum sejenak ya, juga sempat tertarik untuk kolabo. Nggak lagi deh.

Aku terlalu nista untuk dapat bergabung dengan mereka. Mending cari yang lainnya, yang sudi menerima orang sombong sepertiku.

Simak: jurus tendangan penalti, untuk mereka.

Iya, aku ingat, mereka-mereka itu lah yang sejak dulu sering mengirimkan sinyal panas dan mengatakan bahwa aku tak punya jati diri. Mereka ingin aku menjadi diriku sendiri. Ketika aku tetap teguh pada prinsip sombongku, sambil mengeksplorasi diri dan lalu menjadi diriku sendiri, mereka malah bilang aku linglung.

Iya, aku sok merinci hal-hal yang tidak aku pahami maupun hal-hal yang sudah aku mengerti, kemudian ada juga yang terpaksa ku jadikan ambigu, atau lempar bahan acak sebagai kode, karena aku terlalu takut menyinggung, aku kalah, aku terlalu mendengarkan opini orang terhadap pribadiku, aku jadi sering pura-pura tabah, itu semua agar kebodohan sebenarku tidak kentara.

Iya, aku insecure, aku juga egois, aku manipulatif, aku bodoh, aku sok superior, aku arogan, aku impulsive, aku keras kepala maunya menang sendiri. Aku ambisius dan penuh obsesi tapi sok sederhana.

Iya, aku bukanlah cewek baik-baik, bukan idaman para pria baik-baik yang punya standar dan selera yang bersifat baik-baik. Aku bukan pasangan atau teman yang terbaik. Dan mungkin itulah yang membuatku agak takut untuk dekat dengan lingkungan yang baik-baik itu. Takut ketahuan belangku, yakni identitas asliku yang ancur.

Akhirnya aku percaya bahwa aku ini pembohong, aku yang salah, penuh prasangka, dan selalu negatif.
Intinya:

Aku Memang Bukan yang Terbaik;
Jangan Percaya Orang Gila Sepertiku!

Kau dengar itu, kan? Jangan percaya aku, jangan ikuti aku, jangan kunjungi aku, jangan nasehati aku, jangan perhatikan aku, jangan menegurku, jangan membantuku, jangan!

Karena, aku hanya orang gila kotor seperti babi yang penuh kebohongan dan hoax! Semua yang aku ceritakan dan terbitkan hanyalah karangan dan khayalanku! Dongeng menjijikkan yang sulit lulus sensor!

Menyedihkan! -Misunderstood and Mocked by society, bukan hal baru bagiku.-

Bahkan, untuk urusan cinta pun aku rebah, aku berbalik meyakini bahwa perasaanku terhadapnya selama ini tak lebih dari sebuah kebodohanku yang terlalu ngarep saja. Akhirnya menyerah begini:


III. Salah Orang, Salah Sangka;

Ya, aku salah mencintai. Mulanya ku pikir dia.... ah........

He never love nor admire me, he might just see me as someone's twin, maybe his girlfriend or ex girl or whoever special in his heart, so he adore her in me, not to myself. Huh, sorry bro and sis, i'm not her, she's not me.

Maaf, sepertinya aku hanya jatuh cinta pada kesejukan tulisan yang ku kira sebagai perhatian untukku, tapi mungkin itu hanya dari akunnya, bukan dari dirinya. Mungkin oh Mungkin.

Atau, tujuannya adalah sekadar membantuku tanpa embel-embel cinta kasih maupun kagum? Makasih, tapi maaf, aku tak pantas menerima bantuan atau dukungan dari mereka semua.

Sebab, aku pemborak, jadi anggap saja omelanku sebagai bullsh!t atas kedunguanku.

Dan nyatanya aku benci kalian, sangat benci. Karena aku merasa tersakiti, dimanipulasi, dipermainkan, dimanfaatkan, demi kepentingan "besar" kalian. Sampai aku tak kenal lagi siapa aku.

Bahkan aku pernah merasa diusir secara tak langsung. Tapi saat aku agak membalas dengan agak payah, eeeh malah aku yang merasa bersalah. Aku bodoh ya.

Ehem, sekali lagi, itu hanya kesalahpahamanku terhadap kalian saja. Kalian justru ingin menyelamatkanku, tapi aku malah membunuh kalian. Sorry.

Agak ironi. Dulu aku pernah bilang: "Asumsi boleh, wajar, tapi kalau sampai kelewatan atau keterlaluan, apa lagi namanya? Spekulasi sampai seenaknya berkesimpulan dan menghakimi, apa itu julukannya?"

Waktu itu aku berujar seperti itu, sekarang malah aku yang jadi tukang bully dan men-judge tanpa bertanya. Aduh, malunya aku, pada diri sendiri, pada dirinya, pada pembaca, termasuk pada keluarga dan para sobat.

Ck, aku kok makin lebay dan jadi suka dramatisir gini sih.

Apakah itu artinya batinku bukan abal-abal, bahwa situasi sebenarnya memang begitu?
Aku merasa ada yang menuduhku sedang menggoda pacar orang saat aku caring, benar?
Setiap kali aku ingat dan rindu dirinya, ada bayangan lain yang menyela jalurku, mungkin bayang-bayang itu tak rela jika dia sayang aku, secara otomatis aku jadi tawar hati dan semakin meragukan semua hal di special journey itu, seolah aku hanya berhalusinasi, pengalaman itu tidak nyata, betul?
Pasti salah. Forgive me, again. -- aku pun cukup tersiksa oleh hal tak jelas itu.

Namun, satu fakta tak terbantahkan dari dalam diriku kini; Aku merasa lebih tenang dan benar-benar bisa melepaskan semua kegeeran dan kegelisahanku selama ini setelah mengungkapkan ganjalan hati logika aku yang itu.

Like a true acceptance of the wrong feelings and the false expectations. Also, the truth that he's not the ONE, maybe those strong bonds are just karmic for me, or maybe i....uuuh, thank you so much.

It's a life lesson, but i seems too desperate so i took it all as a blessing soulmate things and signs. I keep believing the illusions even though i actually doubt and confuse everything since the first. 

Another truth is that those coincidences are just accidents. Nothing to do with destiny nor fate. My love is too blind. What a silly me.

Oops wait, i'm a liar, don't believe me, i'm not even sure what really happened to me lately.

Represented.

Termasuk prinsip cinta beraroma sok gengsian, keras kepala, dan keras hati aku itu dan ini:

Bagiku, Aku tidak sepatutnya blak-blakan menyatakan cinta atau mungkin menerimanya sebelum terbukti bahwa seseorang itu juga memiliki rasa dan keinginan yang sama denganku, setidaknya ada.

Jika masih tidak konsisten, aku susah menentukan sikap jadinya.

So, aku bukan tipe perempuan yang berani nembak tanpa basa-basi atau duluan mengajak kencan. Kalau naksir, aku cuma bisa kasih hint atau tebar pesona lah.

Kecuali sudah ada sinyal cerah sejak awal dan aku juga suka, baru deh langsung aku embat, eh maksudnya aku nyatakan cinta atau terima cintanya.

Simak: Maafkan aku memang bodoh

Begitulah, kebohonganku yang tak mau menerima kenyataan tentang diriku sendiri. Aku yang penuh fear of rejection, trauma, etc. Mereka pasti bingung dan makin bingung oleh kosongnya jiwa aku.

Wadoh, Aku malah terdengar sebagai jerk pula yah! Hiks!

Oh, aku semakin tak tahu siapa aku, mungkin aku memang tai'k, seperti ini:

Watch out, don't "EAT" them!

IV. Pemakan Kotoran;

Aku, sewaktu masih bayi atau batuta atau batita, (lupa), pernah memakan kotoran, entah kotoran siapa, mungkin aku sendiri, namanya juga masih orok, hahah.

Sial, kata orang, butuh melakukan sedikit ritual tertentu sebagai syarat untuk menghilangkan efek pembawa keburukan. Semacam mandi kembang gitu kayaknya.

Namun mengapa sampai hari ini pun aku seolah masih tak disenangi dan dihindari seperti kotoran? Mendekat pun enggan, apa karena sudah terendus aroma busuk mulut tahi ya?

Aduh, aku harus kumur air parfum tiga kali sehari supaya daki lidah berbau tak sedap bekas memakan kotoran itu hilang.

Aku ingin bebas berekspresi sambil ngedumel dan memaki sepuasnya seperti orang-orang diluaran sana. Tapi...... agak beruntung bahwa aku masih merasakan ini:
Kecewa pun tak boleh?

Mereka, para pecandu rumor dan sensasi, begitu kah? Sayang sekali jika memang iya.

Ku tahan, ku bendung, ku saring,
Lama kelamaan bengkak dan langsung membludak,
Segala perih dan jerit aku tumpahkan,
Harapan tertuang di laman baru yang kuterbitkan,
Itu pun masih dapat ku saring dan ayak lagi agar tidak kelewatan.

Pada awalnya aku "tergila-gila",
tapi pada akhirnya aku "gila",
Sad ending bersama para.... "entah siapa".

Aku seolah ingin mendendam,
tetapi aku tak sanggup,
karena walau bagaimanapun,
ya sudahlah..............!
Memang, lebih baik ku biarkan menggantung seperti itu, karena aku khawatir, kalau aku lanjutkan mencaci, bakal lebih parah begini nanti:


V. Fobia, Akut Pula;

Mataku tak berhenti bergerak, ku ketahui itu bagian dari firasat, soalnya itu tidak datang sepintas, itu masih ada bertubi dan menerus. Katanya itu berarti akan ada kesedihan atau akan malu maupun dipermalukan.

They know me more than i know myself. Bagaimana itu bisa terjadi? Bisa, karena aku pembohong yang penuh kepalsuan. Mereka lebih bisa mengenali kecuranganku ketimbang diriku sendiri.

Lah iya, aku sendiri bingung siapa aku, tentu aku tak tahu cara mengenali diriku yang asli. Sulit bagiku untuk menjadi autentik. Aku tak bisa jujur pada diriku sendiri, makanya mereka mengambil alih peran itu untukku, supaya aku dapat menyadari betapa aku telah menjadi bahan tertawaan seantero negeri dan bahkan sejagat maya.

Wow, apakah itu artinya aku terkenal? Sampai-sampai banyak orang yang tertarik untuk mengorek dan membongkar kebohonganku? Atau ini justru bentuk perhatian dan kasih sayang mereka terhadapku? Mosok?

Terima kasih kalau iya. Tapi sayangnya, aku terlalu sombong, dikasih tahu dan dinasihati malah nyolot, nantang, ngeyel mulu.

Abusers!

Leave Me Alone!

Hey hey hey, bunyikan tongnya
Hey hey, mengapa senyap
Hey, apa yang ditunda

Oh, begitu, grup empunya alat sedang beradu
Dengan aliran liur diujung bibir, mereka meracau

Lihat, wajahnya memerah
Penuh amarah berlapis murka
Sinis aksaranya telah menegaskannya
Bahwa mereka tak sanggup bertanding dahaga

Katanya: tong kosongku bagai pungguk rindukan bulan!
       - Begitukah?
Katanya: pesan dan seniku hanyalah wujud cinta tak berbalas!
       - Macam tu kah?

Huh, mereka tahu apa tentang cintaku?
Hoh, mereka tahu apa tentang rasaku?
Hah, mereka tahu apa tentang juangku?
Heh, mereka tahu apa tentang takdirku?

Ah, mereka sama saja dengan tukang gosip lainnya!
Cuma bisa berasumsi akut demi mengejek lalu manjatuhkan!
Tak mampu beri saran dengan sopan malahan menekan!
Sungguh tega nian para geng itu, sunyi namun nyaring oleh makian!

Biarkan!

Mereka boleh tertawaiku sepuasnya;
       Tak ada yang larang!
Mereka anggap aku lah yang sepenuhnya menyakiti diri sendiri;
       Tebakan mereka sendiri!
Mereka pikir mimpiku edan dan tersasar tanpa aturan;
       Terserah!
Mereka bilang aku licik tetapi disaat yang sama aku dungu;
       Teruslah menilai!
Memang aku seperti itu;
       Jadi, ya sudah, tinggalkan saja aku!

Ini jalan dan pilihanku sendiri,
Menunggu cinta sambil terus berdikari,
Tolong jangan kalian halangi,
Jika kalian masih punya hati!

Bunyikan gaungmu sendiri, lakukan dengan indah, tunjukkan kemampuan sebenarmu, tanpa unsur meremehkan, bisa?

Ku tunggu nada khas kalian!

Simak: Di kata bohong, karena..

Ah, jangan hiraukan amuk rancu aku itu ya. Sesungguhnya aku lebih masuk ke jiwa satire dibanding sarkasme, namun sepertinya mereka menganggap aku dan karyaku terlalu tajam untuk dapat dikategorikan sebagai sindiran halus nan santun.

Bukan berarti aku mengimpikan menjadi ikon kesopanan, aku hanya gamang, tak mampu membedakan mana satire, mana sarkas, mana sindiran, mana canda, mana kreatif, mana hinaan, mana ini, mana itu, mana di mana anak kambing saya.

Ku rasa, naga-naganya, mereka tambah gondok, mendingan skip ke sini:


VI. Kesimpulan berulang;

Hhuhhffhh..
Terlalu banyak yang telah aku luahkan, semua dusta, tidak ada satu pun yang tulus dan jujur. Aku ini siapa, dari mana, untuk apa, sesungguhnya aku tak tahu.

Aku menutupi kehidupan pribadi karena sangat menyayangi diri dan orang-orang tersayang, oh itu juga bohong. Aku menutupi kebohongan dengan kebohongan lain, ibarat gali lubang tutup lubang. Bohong satu tertutupi, timbul bohong baru.

Aku bilang aku bisa, itu bohong.
Aku bilang aku tidak bisa, itu bohong.
Aku bilang aku mampu, itu bohong.
Aku bilang aku tak mampu, itu bohong.

Will try the best to.

~ Me, emotionally destroyed, but i will do my best to "get over it" ~

Hey ini karyaku, buatanku, pemikiranku, pendapatku; mereka bilang aku dusta.
Hey aku ini pencuri, pencopet, perampok, pengutil, pelac*r, pelakor; pun mereka bilang aku dusta.

Hey aku sedang bahagia dan plong; mereka bilang itu dusta.
Hey aku sedang sedih, kecewa, marah, depresi, dan bingung; lagi-lagi mereka bilang aku dusta.

Hey aku optimis dan percaya diri, mereka bilang itu dusta.
Hey aku pesimis dan minder, mereka bilang itu dusta.

Hey aku kuat, legowo, dan sabar, mereka bilang itu dusta.
Hry aku tak tahan dan inhin bunuh diri, mereka bilang itu dusta.
Hey aku puas perhatian termasuk juga dikekang, mereka bilang itu dusta.
Hey aku kurang perhatian dan minim kasih sayang, mereka bilang itu dusta.

Hey aku punya kekasih, mereka yakin itu dusta.
Hey aku jomblo, mereka tak ragu bilang itu juga dusta.
Hey aku normal, mereka teriak aku dusta.
Hey aku penyuka sejenis, mereka semakin teriak aku dusta.
Hey aku dua alam suka keduanya, mereka kian lantang teriak aku dusta.
Hey aku dulu pria tulen, mereka lebih heboh teriak aku dusta.

Hey aku sederhana dan casual tak terlalu suka neko-neko, mereka kata itu dusta.
Hey aku suka benda indah yang mewah berkilauan, mereka bilang itu dusta.
Hey aku jago berdandan sesuai selera makeup aku sendiri, mereka bilang itu dusta.
Hey aku coba bertungkus-lumus usaha sendiri bukan sekadar minta dan pamer, mereka kata itu dusta.
Hey aku punya keinginan menjadi superstar penghasil berbagai karya seni legendaris, mereka kata itu dusta.

Hey aku punya banyak teman, mereka bilang itu dusta.
Hey aku tak punya kawan, mereka bilang itu lebih dusta.
Hey aku sering menipu sahabatku sendiri, mereka bilang itu dusta.
Hey aku sering tertipu rekan sendiri, mereka bilang itu dusta.

Hey aku sudah move on, mereka bilang aku dusta.
Hey aku gila, psikis dan fisikku tidak sehat, mereka bilang itu dusta.

Hey aku sedang berbohong; mereka tetap bilang itu dusta.

Simak: Apa sih lu, suka-suka gue dong

Oops.... Seperti yang mereka bilang, aku hanya si jalang yang penuh tipuan dan kebohongan, berlagak tegar padahal kesepian, berlagak sibuk padahal tidur melulu, berlagak berbakat dan berprestasi padahal tong kosong.

Aku mati rasa sama mereka, aku tak akan pernah menujukan kebohongan dan dustaku kepada mereka, nanti ketahuan pulak, malu dan ribut gaduh, seperti dulu waktu mereka bilang beberapa postingan pengalaman dan rasaku sebagai cerita karangan dan cuma caper. Ya wajar, aku cuma seorang pembual.

Meskipun agak disayangkan bahwa mereka juga sering dan suka mengambil saripati aku. Hhhmmm? Sepertinya aku berbohong lagi deh tu.

Hhhh, sudahlah, takdirku bukan di jalan ini, tapi yang lain. Semoga yang lebih baik. Aahhh, tapiiii, ini pasti motivasi diri pembohong. Aku tukang pelintir, pemutar balik kisah, pembelok fakta. Aku brengsek!

Muter-muter, berentet, bertele-tele, nihil hasil. Tapi pancingan mereka berhasil. Aku tambah bobrok. Kena tulah!

Endingnya: Aku kelar, Mereka benar!

*Hey aku zombie hidup tapi sangat mati, mereka masih saja bilang itu dusta. Aku mati oleh tawa mereka, masih juga dusta.

Hiks T_T Hiks

Langsung ke penutup saja:
Woyea. Smile.

VII. Up to you;

Anda, Anda, Anda, Anda, dan Anda,
Jika ingin berteman, ayo
Jika ingin bersaudara, ayo
Jika ingin berkolaborasi, ayo
Jika ingin bekerja sama, ayo
Jika tak ingin terhubung, pun ayo saja

Diriku pribadi ingin mencintai seseorang apa adanya, terus nyata
Apapun dan bagaimanapun caranya aku akan bersamanya
Siapapun pasti tak mau terjebak pada kaburnya image harap semu

Begitu pula dengan sudut pandang persahabatan
Jangan sampai ada yang akut mencari 'kesempatan dalam kesempitan'
Itu saja.

(I'm sorry i can't be perfect, but.... i also sorry that you can't shut me up, i got my own way, dears! - 3v4)

Simak: Lika-Liku hidup dan persahabatan

----♡----

**Let's educate ourselves and empathize more before we criticize or judge others. (Aku juga pernah berada di situasi begitu; judged and judging too. Learn the lessons.)**

Peace please, no wars, no disrespects, and.. No Slanders!

© Innocent "Criminal's" Notes. 2017

Damai

*Pada saat mengetik postingan ini, hujan turun, mood berangsur membaik. Awalnya sedih nggak ketulungan, mulai bisa menerima kesedihan dengan lapang. Tidak langsung happy kembali dengan sempurna, namun lumayan lah, darpada tidak sama sekali, kan? Status: "hoooorrraaayyyy, it's rain here, now. i love it. new spirit, posting a new post later. yumm. ♡"

Right. Betul. Setuju. Agree. I love him who respect and values the person i am.

"Quote: vibes speak louder than words." ♡

No matter how good or bad the situations and relationships could be, i found the answer that only My family and My long time friends that really loves me unconditionally.

My Dad is my best hero, he helps me (how to survive) past these darknight phases. His love and his sincere cares are more than enough.

My mom prepare something for me too, while keep praying.

My little brothers and sisters, always my priority of sight too.

My best friends, still understand my silly crazy behaviour too. xixixi.

My lovie? Soon. ♡

Simak: Cukup hanya aku, jangan mereka

^.^

Can't wait to love, catching, meeting, working, with another true ones, soon! Eh eits ini bukan resolusi tahun depan lho yaa. Biasa aja tuh. Apalagi urusan love partner, natural aja deh. Ngarep sih iya tapi tidak. Mungkin lebih ke pasrah dalam harapan. Gituuu. Apa lah ini!

Simak: Kawan bukan "Oknum"

(Menggugat prahara: And It'd be so good if he and them hate me more because of these statements and my true colors! Hopefully next they will stop watching me! Even If the truth is that they actually want to help me by doing all those things, still i won't say nor feel thank you anymore! No way! Bweeeeek! Ugly! Jangan tangkap aku, sebab aku tak tahu apa-apa, nyong! đŸ˜Ŧ😡đŸ˜Ŧ😡đŸ˜Ŧ😠 #EmoModeOn)

Simak: Pilih Aliran yang Benar

^_^

^^ Hello 2018 ^^

True Facts! (Images source: #Internet. ^-^)
Quote: "Just because i am strong enough to handle pain, doesn't mean i deserve it." *Tapi rapopo lah, yang penting masih hidup dan masih bisa terus melangkah ke depan.
A better life's book with the sweeter stories coming. Amin YRA. ^_^


Thanks For Stopin' By My Blog
Kategori:
Admin's : Thanks to my family, best friends and readers for always supporting me .. ^.^

Tentang | Kontak | Pelaporan