Ini Celotehan Apa? - [Why They Think That We're Wrong?]

Beda Kepala Beda Prinsip - Hello Dears, bingung sama judul dan sub-judul postingan ini? Jangan khawatir, anda tidak sendiri, soalnya saya yang menulis ini juga bingung, uhuk >_<

Ada ungkapan yang mengatakan: "Manusia adalah mahkluk sosial. Setiap orang pasti akan membutuhkan bantuan, saran, dan dampingan dari orang lain. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mampu berdiri sendiri tanpa adanya orang lain."
  1. Yang lebih paham harus mengajari yang kurang paham.
  2. Yang lebih sabar harus menenangkan yang kurang sabar.
  3. Yang lebih mampu harus menyejahterakan yang kurang mampu.
Itulah yang seharusnya terjadi di dunia ini. Apakah di era Hi-Tech ini "Teori" tersebut masih sejalan dengan "Realita di Lapangan"? ..

Saya rasa (yakin sih) masih banyak yang baik hati, hanya "kadar dan jumlah total-nya" saja yang mungkin agak sedikit berkurang .. ^_^

Salah? Why They Think That We're Wrong?

Di saat kita "mungkin" melakukan kesalahan atau sedikit khilaf, biasanya identik dengan Koreksi/ Protes dari orang sekitar kan? Itu wajib.

Tapi masalahnya adalah:
  • Bagaimana cara mereka membetulkan kita? Dengan cara yang baik atau sebaliknya?
  • Lalu, apakah memang kita yang salah atau hanya di anggap salah padahal benar?
  • (Apa sih ini? :D)
Lanjut ah, Orang lain mengoreksi atau memprotes kita karena.........

1. Mereka Lebih Memahami


Yup, ini seperti disaat Guru kita mengoreksi PR atau kertas ujian.

Guru akan memberi tanda centang untuk jawaban yang benar dan tanda silang untuk yang salah. Lalu setelah itu beliau akan menerangkan materi itu kembali agar kita bisa semakin mengerti dan tidak salah lagi. Kan?

Nah, dari situ bisa terlihat bahwa:
  1. Orang yang tulus dan berisi alias benar-benar menguasai bidang keahliannya, pasti sangat tahu cara menyampaikan ilmunya dengan baik, dan juga sesederhana mungkin. [Seperti yang pernah dikatakan oleh Albert Einstein].
  2. Di samping itu, ia juga akan paham betul cara terbaik untuk mengoreksi seseorang yang dianggapnya "salah atau kurang tepat", tanpa menumbulkan ketersinggungan.
  3. Make The Things "Fun, Simple, Accurate."
[Ingat ya Dears >> Sederhana bukan berarti harus terlalu singkat atau terlalu pendek. Lalu Panjang dan detail bukan berarti bertele-tele..] Ya, Bijak - That's one of the key selain dari penguasaan materi.

Wow, saya juga pasti akan manggut saja dan lebih nerimo sama orang yang begini ini. Semua orang pasti lebih suka yang ini kan.

Jadi point 1 ini adalah cara yang paling baik (bahkan sangat amat baik) ^_^


2. Mereka Justru Tidak Tahu


Kalau kita tidak tahu, memang harus Belajar lagi agar lebih tahu. Dengan Mandiri atau Bertanya langsung kepada orang yang lebih mengerti. Tidak buang waktu dengan mengomentari atau memaki.

Cara protes kurang baik: Akan saya beri contoh dari sepenggal cerita fiksi ini;

~~~°~~~

Ada 3 orang (si A, si B, si C) yang sedang iseng ngumpul dan ngerumpi di pos ronda. Jadul banget sih, anak sekarang mah ngumpulnya di cafe ya. (cafe internet alias warnet) :D .. Mereka sedang ngobrol tentang musik.
  • Si A: "Michael Jackson itu memang pantas jadi King Of Pop yah, lihat saja semua karya dan "image-nya", punya ciri khas tersendiri dan sampai hari ini masih digemari, awet sepanjang masa. Mantap kan?".
  • Si B: "King of pop bagaimana? Mana ada yang begituan, dasar pembual (pembohong) kamu ah"
  • Si C: "Iya nih sok tahu banget, raja ya raja biasa lah, mana ada yang kayak gitu, kalau mau bikin sensasi ya mbok kira-kira juga lah, wkwkwk"
  • Lantas Si A membela diri: "Ada koook, makanya MJ dibikinkan album kompilasi yang judulnya begitu juga. Trus, Queen of Pop itu Madonna. Di Indonesia ini juga ada Rhoma Irama The King Of Dangdut karena beliau termasuk pelopor dangdut dan karyanya sangat berpengaruh. Banyak faktor yang menjadi penilaian dalam pemberian julukan atau gelar untuk para Seniman / Seniwati."
  • Si C: "Halahhh, itukan bisa-bisa nya kamu aja, jangan sok menghubungkan dengan Raja Dangdut kita lah kalau mau ngeles kayak Bajaj" .. (Kemudian Si B dan Si C langsung pergi meninggalkan Si A sendirian karena mereka menganggapnya sebagai pembohong dan nggak penting).
Akhirnya Si A hanya bisa terdiam sambil menahan rasa malu. Ia jadi merasa bodoh dan sok tahu, sehingga ia pun sempat meragukan pengetahuannya sendiri.

Saat pulang kerumah, Si A langsung mencari Majalah lamanya, lalu browsing lagi di Mbah Google, dan keliling di jejaring sosial, untuk memastikan lagi apakah ia benar atau memang sok tahu?

Dan ternyata ia memang benar. Rasa percaya dirinya tumbuh kembali. Yeahhh..

Itu ilustrasinya, mereka marah pada Si A karena justru mereka lah yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang itu.

~~~°~~~

Yup, Kita akan unggul apabila:
  1. Kita lebih banyak membaca.
  2. Kita lebih kepo (positively), suka merujuk ke banyak sumber agar bisa belajar lebih banyak hal.
  3. Kita lebih suka menikmati langkah demi langkah perjalanan kita ketimbang buru-buru ingin cepat sampai ke tujuan tapi malah lupa langkah awal dan sulit pulang. (Step-by-Step, perlahan tapi pasti, asal jangan terlalu lamban klemar klemer lho ya).
  4. Rasa penasaran kita tinggi, sehingga kita lebih banyak melakukan uji coba (Praktek / Eksperimen).
Mungkin itu yang dapat membedakan opini dan karya kita dengan orang lain.

Walau terkadang menjadi berbeda juga beresiko. Misalnya dianggap membodohi atau menyesatkan. (seperti contoh cerita diatas).

Sebenarnya itu wajar sih, karena sekarang ini yang namanya hoax dan hal kurang penting memang sangat mudah tersebar - menjadi viral. Itu membuat kita jadi waspada berlebihan & skeptis.

Tapi tetap saja bukan berarti kita bisa dengan bebas menilai atau menuduh sembarangan, apalagi kalau sampai menjurus ke arah pembulian / penghinaan kan?..

Yang penting lakukan 4 poin penting diatas, jadi kita bisa bela diri nantinya. Jangan ngasal hembus sana sini kayak angin numpang lewat, ngerti kan? :D



3. Mereka Takut Tersaingi. (tepatnya: Kalah Saing)


Nah kalau yang ini sudah masuk ke bagian khusus.

Merasa tidak rela di saingi oleh pendatang baru atau tetangga baru, mereka sampai rela menyisihkan waktu berharganya demi mencari kesalahan dan kelemahan para saingannya, kemudian mulai menjatuhkannya.

Hmmm hmmm hmmm, That's it. Hanya itu saja bahasan poin ini.


4. Mereka Ingin Perhatian


Pernah dengar ini kan? "Haters = Secret Admires <~> Para pembenci itu sebenarnya pengagum/penggemar sejati yang gengsian". Itu adalah "motto" tentang haters yang sangat populer. (terutama di Internet).

Artinya: Segala apa yang kita lakukan maupun kita ucapkan seolah selalu salah dimata dan telinga pembenci itu. Tetapi sebenarnya mereka menghujat itu hanya karena ingin menarik perhatian orang yang dihujat. Semacam Benci tapi Rindu :D

Iya juga sih, terkadang memang gitu. Saking sayang dan kagumnya, kita malah jadi sering merasa kesal. Bisa karena takut kehilangan atau karena kurang diperhatikan. Lho kok, argumen saya di paragraf ketiga ini nggak nyambung ya?

Kalau kita menilik makna dari kata Hater = Pembenci, rasanya moto diatas agak sedikit janggal ya. Maksudnya:
  1. Kalau orang-orang sampai mengeluarkan kata-kata keji atau berkreasi negatif berbau *vulgar atau whatever* demi bersenang-senang, apakah itu juga termasuk pengagum?
  2. Lalu dimana letak "Indahnya kebebasan dalam berekspresi" dari hal semacam itu? 
  3. Bingung lagi? ....... Sama ...... ^^
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~

Kita tahu bahwa dalam kehidupan ini ada aturan-aturan ringan tentang tingkatan cara berkomunikasi dengan orang sekitar.

Baik itu dalam hal penggunaan kata maupun bahasa. Begitu juga dengan nada suara atau penulisan. Tak lupa juga lokasinya, komunikasi di tempat umum dan tempat formal pasti akan sedikit berbeda.

Contoh terkecil-nya:
Penempatan yang tepat dalam pemakaian kata-kata "Aku dan Saya", atau "Kau/Kamu dan Anda". Termasuk "Gue dan Elo".

Yup, berbicara kepada orang tua, guru, petinggi, teman, bahkan dengan adik pun ada tata cara baku-nya.

Begitulah.. Tapi daripada nanti kepanjangan dan malah makin ngawur, sekian dulu celotehan (Ocehan) kali ini. Sampai jumpa lagi dipostingan selanjutnya Dears. ^.^


Thanks For Stopin' By My Blog
Kategori:
Admin's : Thanks to my family, best friends and readers for always supporting me .. ^.^

Tentang | Kontak | Pelaporan