OOT (Lagi)

(DigiArts) .. I Do, oops i mean i wish i did, eh i've done. Hah? Ahah hah haa.

Penggiringan, Penggorengan, Penggulingan, Penggilingan!

Pikiran digiring-giring;
Emosi digoreng-goreng;
Keteguhan diguling-guling;
Semangat digiling-giling;

Then, NONE OTHER THAN...... what?


Little Short Story!

Mengapa eh eh eh eh Mengapa?

Dengan terbata-bata dan tergopoh-gopoh (plus, cengengesan kayak orang mau ngutang), mereka bilang:
"Ini hal ihwal biasa, Bung/Jeng. Anda jangan norak. Semuanya memungkinkan di kanal ini. Segalanya bisa terjadi di ranah ini. Namanya juga psikol*gi pol*k, wajar. Kalau tak bisa memahami itu, minggir saja, atau, ke laut ajah!"

Haha, Kita Balik Ketawa, Mengapa?

Mereka "beralasan" bahwa itu demi menyelamatkan semua
Hasilnya justru lain, agak "mencelakakan nan menyesatkan"

Lagi-lagi kita bertanya, Mengapa?

Ketika trik dan strategi itu memakan korban yang tidak terlibat
Ketika banyak orang awam termakan hasutan dan pecutan
Ketika pemikiran cerah masyarakat berubah gelap dan buntu
Ketika kaum muda muak lantas rusak bahasa, etika, dan kelakuannya

Ketika 'berontak/dobrak' identik dengan terorisme dan komunisme
Ketika netral diartikan sebagai wujud kedunguan oposisi dan oplosan
Ketika menjaga ucapan dan menghindari konflik dianggap pengecut

Ketika hanya kambing hitam yang ngetop, kambing lain makin tersisih

Penyeimbang disamakan dengan pengadu dan pembentur
Akibatnya; pendengaran, penglihatan, perasaan, pengucapan, buram!

Mereka tak akan peduli itu, Mengapa?

"Yang penting target tercapai. Persetan dengan keremeh-temehan."
"Tujuan kami bagus, jangan halangi, nanti kau juga yang akan nikmatinya."
"Perkara kecil jangan dibesar-besarkan, jangan usil."
"Jangan ikut campur, saksikan dan lihat saja dengan tenang."
"Ini dalam rangka membela yang bayar eh yang benar."

Setelah lempar batu kerikil, tangannya tak disembunyikan, malah cari batako buat dilempar lagi.

Payah, satu masalah belum selesai, malahan menambah satu lagi keributan yang baru, begitu terus terus terus, sampai numpuk, solusinya ya nimpuk lagi lah jadinya.

Bonyok, penyek, masa bodoh, yang penting menang!
Seperti itu?

Mereka bilang: "Hey, jangan generalisir!"
Kita bilang: "Sorry coy, khusus yang ini, justru mesti begitu, soalnya kalian juga sering gitu! Kan Kan Kan..... ngaku!"

Oh, tak ada yang mengaku, malah pada mengamuk.

----|!|(.... -__- ....)|!|----

Baiklah, ini yang perlu:
1. Rakyat jelata sejati tak pernah salah.
2. Jika rakyat salah, kembalikan ke mereka lagi: mengapa ogah introspeksi!


Tawa Itu, Arahkan ke Mereka yang Basi!

Mereka tega menjadikan kita sebagai badut mengkerut
Mereka terlena dengan samarnya kemilau imitasi

Mereka tertawa demi kesenangan dia sendiri
Mereka terkekeh terbahak tersentak terhenyak

Mereka terus serang mengejek perjuangan berturut
Mereka takut pada pembalikan inti jenius dijalur isi

Mereka tuding yang bawah bersama pecut para budak
Mereka terkejut sebab itulah bukti kekosongan para iri hati

Mereka Menerka
Mereka Membuka
Mereka Meluka
Mereka Murka

Apa maunya mereka
Apa tujuannya mereka
Apa indahnya mereka
Apa baiknya mereka
Apa apa saja lah mereka
Tak jelas mereka itu apa

Ya; Mereka;

Di satu sisi mereka bilang kita bodoh
Di sisi lain mereka bilang kita berbahaya

Di satu sisi mereka bilang kita pendongeng ompong
Di sisi lain mereka bilang kita pengancam kabar

Di satu sisi mereka bilang kita tak penting
Di sisi lain mereka bilang kita harus dimanfaatkan

Di satu sisi mereka bilang kita tak pantas diakui
Di sisi lain mereka bilang kita sok mandiri

Di satu sisi dan Di sisi lain,
Dasar! Mereka Penggombal!
Tukang Silat Lidah!
Tukang Jilat Tapak!
Tukang Sikat Kebenaran!
Tukang Umpat Fakta!
Tukang Sunat Ruang Kebebasan!


Lantas Kita, Dianggap Apa!

Kebingungan kita,
Kepuasan mereka.

Porak-poranda kita,
Pelipur mereka.

Tangis kita,
Tawa Mereka.

Prestasi positif kita,
Kecemasan negatif mereka.

Dimanakah keadilan sejati itu akan terasa?
Pembuktiannya pasti bukan ditempat mereka

Sulut api, berbuah seringai, bersalut panas, berbara ganas;

Seorang teman yang dipercaya ternyata lawan berwajah ganda
Seorang rekan seperjuangan tampil untuk melucuti kulit aib kisah idola
Seorang sahabat yang pernah memberi bahu rupanya cuma penusuk
Seorang kawan yang kerap menjadi tameng berubah menjadi penggempur

Setelah bersandiwara lanjut memamerkan telunjuk ke muka si terpuruk;

Sungguh kejam cara mereka
Sungguh parah hasrat mereka
Sungguh kronis obsesi mereka
Sungguh akut berahi mereka
Sungguh bengkok ambisi mereka

Sialnya malah turut bersungguh-sungguh meleburkan ketenangan

Suudzon dan prasangka tertuju pada kita
Sedangkan mereka seolah selalu benar dan tak ada khilafnya
Semua demi kesejahteraan mereka dan mereka dan mereka
Sehingga jalan lancar itu hanya akan menjadi milik mereka
Sebuah ilusi nyata yang lacur daya dan tenaga pendamping mereka

Sampailah pada titik simpulan akhirnya
Suatu ketika mereka luncur lecur hancur
Seonggok sesalnya mereka yang dulu sesat pun tersingkap
Sekarang dan kini mulai menggerogoti hati tanpa nurani
Saat seribu saran seakan sumbat sebelum sempat singkirkan
Sudah terlambat namun sekian saja bagi mereka yang jelang sirna

Semoga damai tulus itu akan kembali kokoh nantinya,
Sigap menggeranyangi sisa kebengisan bulus mereka selamanya.

Aku, Kamu, Kami - Kita, Tak akan tunduk pada kepalsuan naif mereka!


Troll = Provokator = Kompor = Koruptor!

Mereka Tak Sadar Diri Telah Terasuki Dengki Anarki!

Itulah..
Keadaan membuat kita mengomel dan mengeluh,
Gara-gara mereka,
Kita jadi menangis dalam tawa,
Lalu tertawa dalam tangis.

Heh?!!!

T_T

No, jangan lagi menangis karena mereka
Para pemain berlagak menjadi korban
Berakting tulus berbalut relasi semu
Membentang pandangan sempit beriring sinis

Dengan santainya mereka menuding korban sebagai player
Mereka playing stupid games lantas menginjak para innocents
Para victims termainkan oleh sewotnya para players
Dengan keji mereka tuding para victims sebagai creator the games

Nyinyirnya berbau anyir menyingkirkan penghalang kangkang
Layaknya perompak mengklaim hak dengan bukti tanpa pembuktian
Terbelakang dan tersisih oleh dangkalnya tenaga nihil esensi

Tertawakan diri sendiri yang pernah kagum pada "kehebatan" mereka
Tanpa yang hijau palsu mereka tak akan mampu berjalan dengan terbuka
Siang malam mengolah ujung jari menyebar kebencian untuk para seteru
Sebolehnya kita ketawakan imutnya grup kanak-kanak dewasa itu

Jangan coba menegur mereka (lagi)
Kalau kau tak mau tercekik oleh tali lapuk mereka

Jangan coba mengkritik mereka (lagi)
Kalau kau tak suka tersedak oleh kerupuk rapuh mereka

Jangan coba menghentikan mereka (lagi)
Kalau kau tak ingin terjegal oleh truk tinja busuk mereka

Kaca mereka telah pecah berderai
Cermin mereka telah tergadai
Pundi-pundi mereka telah terburai
Kemanusiawian mereka pun terbengkalai

Mereka semua sama saja


#KitaKeren karena berkarya.
#MerekaKere karena ber.... entahlah!

Kita vs Mereka, kata SID kepada mereka.
Cinta pembodohan, kata Marjinal kepada mereka.
Pala lo peang, kata Slank kepada mereka.
Bongkar, kata Iwan Fals kepada mereka.
Muke lu jauh, kata kita kepada mereka.

[Ingatkan diri kita, bahwa, jangan sembarangan main Boomerang kalau tak mau kena "Bumerang".]

Ini bukan pembangkangan, juga bukan latah,
tetapi...
it's #AllAboutTheirReflections.
Mereka yang secara tak langsung "mengajari" kita jadi begini.
Ho'oh, merasa paling cerdas dan paling betul? Oke deh, go on!

Yup, Selesai.

PEACE

^^


Thanks For Stopin' By My Blog
Kategori: ,
Admin's : Thanks to my family, best friends and readers for always supporting me .. ^.^

Tentang | Kontak | Pelaporan