Aku Memang Bukan yang Terbaik

Can i say that i am an innocent criminal? O_O


Healed, Monolog Duka-Suka;

Iya, aku insecure, aku juga egois, aku manipulatif, aku pembual, aku bodoh, aku sok superior, aku arogan, aku impulsive, aku keras kepala maunya menang sendiri, dst., maka dapat dipastikan bahwa aku bukanlah cewek baik-baik, bukan idaman para pria baik-baik yang punya standar dan selera yang bersifat baik-baik. Aku bukan pasangan atau teman yang terbaik. Dan mungkin itulah yang membuatku agak takut untuk dekat dengan lingkungan yang baik-baik itu.

Tapi... sudahlah, hal itu justru bikin lega juga. Sebab aku jadi tahu, siapa yang ini dan siapa yang itu. Siapa yang patut aku panuti dan yakini, siapa yang okay saja lah. Hal-hal mana yang ini dan mana yang itu.

Yup, aku senang bahwa aku sudah punya para kawan dekat dan sweethearts. Yang masih sudi menjadi bagian dari hidupku.

Sedangkan family memang sudah mutlak, the true lovely loves. I Love them all.

Mereka lah yang baik-baik menurutku. Menasihati dengan sewajarnya. Tidak offended, tidak nyolot, dan pastinya tidak nganu. (No contrary dengan inti wejangannya.)

Ok.... itu opening nyata senyata-nyatanya dari lubuk hatiku yang terdalam.
Kedepannya, semoga terasa lebih ringan dalam berkarya. Amin YRA.

Eh atau......

Mungkin kedepannya aku akan lebih apatis dan skeptis pada hal-hal tertentu dan tidak akan peduli lagi anggapan dan pandangan orang-orang/kelompok tertentu. (Wuuaah .. kidding)

----

Berikut adalah my ugly sides, luahan amarah tak jelasku:


Watch out, don't "EAT" them!


I Hate You, BAD SOCIETY; ( T_T)

Entah kajian apa yang menjadi acuan mereka. Semua orang diwajibkan sempurna. Tidak boleh marah, tidak boleh tersinggung, tidak boleh stress, tidak boleh ini itu. Pokoknya harus sesuai dengan keinginan dan target capaian mereka.

Terus terang aku pun sempat berada di zona doktrin penuh dogma dan stigma dst. rancu itu. Para "pembentuk trend" mata duitan lah yang menyebabkannya.

"Bohong tetap bohong, apapun alasannya tetap saja orang itu tak akan bisa dipercaya lagi." Katanya.

"Jadilah diri sendiri tanpa berpura-pura. Sekali saja kita pretending, maka segala hal tentang diri kita selamanya berarti topeng." Katanya lagi.

"Jangan pernah beri kesempatan apapun kepada orang jahat. Bullsh!t semua, nanti tersakiti lagi." Katanya dengan lebih sinis.

Ujungnya, dikatakan: "Jangan salahkan pergaulan society atau pakar atau tren. Salahkan dirimu sendiri."

Dan banyak lagi..........!

Sorry, for me, it's all depends. There are so many factors.

Kalau tidak suka nature dan humanisme, jangan berlagak meyodorkan sekat dan pembagian level, karakter dan sifat manusia.

Parahnya, hanya fokus pada sisi negatif manusia demi menyudutkan atau apalah. Bully adalah kewajaran. Keuntungan dan kuasa yang utama. Sungguh mereka itu, korban sampah politis kah? Entahlah.

Jika mereka membantah, mungkin mereka butuh piknik dan bergaul secara nyata. Turun ke lapangan, turun ke jalanan, ambil hikmahnya, bukan sekadar mejeng atau iseng, biar tidak textbook dan cuma bisa terpaku pada satu 'titik' tanpa peduli 'titik' di tempat lain, dlsb. Atau bisa juga dengan memperbanyak genre bacaan dan pahami.
Jalanan

Apa yang kau pikirkan ketika mendengarkan kata itu?
Apapun pikiranmu, hati-hati menggunakan dan membanggakannya,
Sebab....

Jika kau anak-anak jalanan, maka kau akan dianggap bocah nakal!
Jika kau lelaki jalanan, maka kau akan dianggap preman kampungan!
Jika kau wanita jalanan, maka kau akan dianggap lacur pelipur nafsu!

Siapa yang menganggap begitu?
Para elite abal-abal?
Pemilik otak kotor?
Pemilik mulut comberan?
Pengikut fulus rampasan?
(Mungkin?)
Aku juga tidak sempurna, aku butuh banyak belajar lagi tentang banyak hal, dan aku juga bersyukur bahwa aku tidak tertarik untuk masuk dan bergabung dengan hal-hal pol*k atau kapits semacam itu.

Seakan tak punya cermin, pada anti-ngaca kali ya, atau muka tebal, gitu. (Oops, tidak semua lhoo. Ada juga yang masih punya moral dan integritas, meski bisa dihitung pakai jari, saking sedikitnya.)


Little EMO;

Hey hey hey, bunyikan gongnya
Hey hey, mengapa senyap
Hey, apa yang ditunda

Oh, begitu, grup empunya alat sedang beradu
Dengan aliran liur diujung bibir, mereka meracau

Lihat, wajahnya memerah
Penuh amarah berlapis murka
Sinis aksaranya telah menegaskannya
Bahwa mereka tak sanggup bertanding dahaga

Katanya: tong kosongku bagai pungguk rindukan bulan!
- Begitukah?
Katanya: pesan dan seniku hanyalah wujud cinta tak berbalas!
- Macam tu kah?

Huh, mereka tahu apa tentang cintaku?
Hoh, mereka tahu apa tentang rasaku?
Hah, mereka tahu apa tentang juangku?
Heh, mereka tahu apa tentang takdirku?

Ah, mereka sama saja dengan tukang gosip lainnya!
Cuma bisa berasumsi akut demi mengejek lalu manjatuhkan!
Tak mampu beri saran dengan sopan malahan menekan!
Sungguh tega nian para geng itu, sunyi namun nyaring oleh makian!

Biarkan!

Mereka boleh tertawaiku sepuasnya;
      Tak ada yang larang!
Mereka anggap aku lah yang sepenuhnya menyakiti diri sendiri;
      Tebakan mereka sendiri!
Mereka pikir mimpiku edan dan tersasar tanpa aturan;
      Terserah!
Mereka bilang aku licik tetapi disaat yang sama aku dungu;
      Teruslah menilai!
Memang aku seperti itu;
      Jadi, ya sudah, tinggalkan saja aku!

Ini jalan dan pilihanku sendiri,
Menunggu cinta sambil terus berdikari,
Tolong jangan kalian halangi,
Jika kalian masih punya hati!

Bunyikan gaungmu sendiri, lakukan dengan indah, tunjukkan kemampuan sebenarmu, tanpa unsur meremehkan, bisa?

Ku tunggu nada khas kalian!


Countering?

Begitulah, sungguh tak nyaman rasanya bila ada pihak-pihak luar yang terlalu ikut campur mengomentari kehidupan dan diri pribadi. Aku bukan selebriti, kenapa diributkan? Paling dijawab: "You're just insecure." Jiaahh, gitu lagi. Solusi matangnya? ^^

Pabila kita bicara mengenai keluarga, tapi ternyata kita masih lajang, apa itu aneh? Arti keluarga kan luas. Lagipula, bisa saja kita berbagi atas dasar curhatan keluarga, kawan-kawan, atau kerabat, kita share tanpa merinci identitas dsb.

Terlebih hubungan cinta. Cukuplah bagian kulitnya saja yang dibagikan, semoga bisa menginspirasi banyak orang secara baik. Yang penting bukan dalam rangka menyebar hoax atau sensasi demi kenikmatan sekejap.

Ya, membagi kisah patah hati, rindu, sayang, jatuh cinta, masa lalu atau masa kini, namun tidak gamblang atau vulgar -- walau kadang jelas tersurat juga sih -- apa itu juga aneh?

Kan tidak untuk sengaja promosi diri 'available' or "sell" or "marketed" ourselves. Bukan pula "desperate" cari pendamping saking tak laku. Jika ada yang 'langsung' anggap begitu, maaf saja, itu tudingan dangkal.

Yah, tapi, prinsip masing-masing saja deh. Toh segala resiko dan cacian ditanggung masing-masing. Aneh kah?

Asumsi boleh, wajar, tapi kalau sampai kelewatan atau keterlaluan, apa lagi namanya?

Kalau kita melakukan hal yang sama terhadap mereka, saking lelahnya, dan jadinya terkesan balas dendam, nanti mereka bilang: "You just did something that you say you'll never do. Now you're not good enough.", atau: "finally you show us your true color", atau: "you've kill me/us, evil.")

Hmmm, gitu ya? Maafkan aku.

----
Loves you.

Up to you;

Anda, Anda, Anda, dan Anda Anda,
Jika ingin berteman, ayo
Jika ingin bersaudara, ayo
Jika ingin berkolaborasi, ayo
Jika ingin bekerja sama, ayo
Jika tak ingin terhubung, pun ayo saja

Diriku pribadi ingin mencintai seseorang apa adanya, terus nyata
Apapun dan bagaimanapun caranya aku akan bersamanya
Siapapun pasti tak mau terjebak pada kaburnya image harap semu

Begitu pula dengan sudut pandang persahabatan
Jangan sampai ada yang akut mencari 'kesempatan dalam kesempitan'
Itu saja.

----

*Let's educate ourselves and empathize more before we criticize or judge others. (Aku juga pernah berada di situasi begitu; being judged and judgings too. Learn the lessons.)

Peace please, no wars, no bullies, no disrespects, and.. No Slanders!

© "Innocent Criminal's" Notes. 2017

Damai

^_^


Thanks For Stopin' By My Blog
Kategori: ,
Admin's : Thanks to my family, best friends and readers for always supporting me .. ^.^

Tentang | Kontak | Pelaporan