Devils

Devils never care about LOVE.

Perih,
Keras ditertawai ketika bilang I Love You.

Gila,
Jika diturutkan rasanya tak ingin hidup lagi.

Malu,
Saat keluguan dijadikan lelucon.

Kesal,
Tatkala sayang dan cinta bermakna searah.


Namun,
Percuma digubris. Devils tak akan paham apa itu Cinta. Pun tak akan mengerti akan kebutuhan pada cinta. Beraneka macam rasa cinta, tak mungkin terasa di lidah tajam nan berapinya.

Teringat pengalaman dulu, sebuah akun yang dimiliki oleh seorang Rock Star (#rockstar) tetiba saja mulai sarkas terhadap salah satu luahan rasaku.

Endingnya; Dia seolah menyarankanku agar menghubunginya melalui email yang dia publish. Ingin diskusi tentang pemikiran, katanya.

Aku tak mau. Aku benci dia. Aku tersinggung pada caranya. Aku muak pada keangkuhannya. Aku jijik pada seringai sinisnya. Aku sedih pada pandangannya yang kerap meremehkan. Aku tak sanggup melawan kuasa berbintangnya. Aku tak ingin mengidolainya lagi.

Sambil kesal dan nangis, ada yang mengganjal dihatiku: kenapa sih, orang besar seperti dia kok bisa merasa terganggu oleh kehadiran orang kecil yang bodoh sepertiku? Begitukah cara dia memperlakukan penggemarnya? Atau mungkin terhadap yang sekitarnya juga seperti itu? Padahal aku tidak terobsesi akut padanya.

Seorang kawan dekatku mengingatkanku agar jangan pedulikan dia, karena dia memang sering begitu. Dan lagi, belum tentu itu dia, bisa saja asisten atau timnya yang menjalankan akun itu. Cuekin saja. (Maklumlah, orang elite yang super terkenal. Rata-rata ya begitu. - Note: Tidak semuanya public figure begitu, masih banyak juga yang rendah hati ~ tetap humble. True idols.)

Biarlah, aku saja yang mengalah, aku tutup akunku, dan bikin yang baru, tanpa memedulikan dia lagi. Aku bahkan mulai jarang mendengarkan karyanya atau mencari tahu info terbarunya. Tidak sesering sebelumnya.

Bukan karena dendam, cuma sadar diri, siapa lah aku ini, tak pantas menjadi penggemar atau pengikutnya. Apalagi menjadi temannya, pasti sulit.

Itulah. Sebagian dari penyebab kenapa aku semakin merasa minder sama orang-orang dikalangan itu. Cukup saja kagumi karyanya, tak perlu berkeinginan jauh untuk menjadi teman atau berkolaborasi dengan mereka.

Terdengar pesimis putus asa atau malah sadis ya? Enggak lah, biasa ajah. ^^

Terakhir tahun lalu, entah kenapa aku kok tergerak untuk nekat 'mengujinya', eehh ternyata masih begitu. Yaudah, up to you deh. Begitu juga dengan beberapa figur lain, aku emoh terlibat apapun dengan mereka lagi.

- Mungkin karena aku terlalu culun, atau gara-gara miskomunikasi, jadi sering salah paham, terus-menerus. - Simak: Yang Malas Berpikir Jernih;

Tak ada sangkut-paut dengan urusan loyalitas. Lain cerita. Ini masalah prinsip. Uhuk. Pun aku bukan pembenci. Aku alergi menjadi penggemar buta, sudah pasti aku pun tak mau menjadi bagian dari yang membenci.

"Loh? Itu di atas bilang benci dia, kok sekarang malah nggak rela dibilang pembenci?"

Good question. Jawabannya; Benci pun sesungguhnya punya makna berlainan, bergantung pada apa dan apalah, pokoknya bukan cuma itu-itu melulu. (Eh? ^^)

Pembenci yang lebay itu masuk ke ranah barbar. Misal: lover yang terlalu fanatik = extreme hater. (i hate you vs i don't like you.)

Mendingan aku mengagumi idola sejati yang lainnya, yang memang patut dikagumi luar-dalam. Baik itu dari sisi professional-nya maupun sisi personality-nya.

Tapi, sekali lagi; Karya tetap karya, terlebih yang positif, patut diapresiasi, siapapun kreatornya.

Gituuu..

Yah, sudahi saja curhatnya, daripada semakin melantur keluar jalur bahasan, bisa-bisa para devil ketawa terbahak ngakak keselek.

Atau, malah dibilang hobi berbohong, atau, menganggap kebohongannya sendiri sebagai kebenaran, atau, menebar kabar bohong yang dipaksakan menjadi fakta, atau, menentang dan menantang ini-itu. Capeeekkkk duuueehhh. (Devil vs Demon.)

*Jangan remehkan efek samping dari bully dkk, trauma terpendam akibat itu sulit terhapuskan. Kesannya mendalam. (Sampai kini masih terasa semuanya.)

Selebihnya; Cintaku hanya untuk orang-orang yang sudi menerima cinta dariku. Ehem. ♡

Selesai dolo aahh,
ngumpet sambil ketawa sendu,
dan lupakan,
-- walau takkan lupa --
^ ^

**Penyebab Ketawa: Bahagia, Lucu, Mengejek, atau dll?
**Sesuatu menjadi lucu karena: Lawakan menghibur atau Konyol memalukan?
**Hayoo, pilih mana..
**Pasti ingin yang bagus saja lah kan.


(Last message: Hey, I Love You too, but..... ~~ Kamu nyebelin tapi ngangenin. Ugh, tambah ngeselin jadinya. ~~ If you know what i mean vs You know what i mean.)


Thanks For Stopin' By My Blog
Kategori:
Admin's : Thanks to my family, best friends and readers for always supporting me .. ^.^

Tentang | Kontak | Pelaporan